Jejak Islam di Honduras
Jejak Islam di Honduras
Kawasan Amerika Tengah sejak lama telah menjadi tujuan para imigran
asal Timur Tengah. Beragam alasan kedatangan mereka ke sini. Misalnya,
sikap toleran dari penduduk lokal dan terbukanya kesempatan memperbaiki
taraf kehidupan.
Selain itu, alasan imigran asal
Timur Tengah dan Afrika datang karena persoalan dalam negeri yang
menimpa mereka. Maka itu, tak mengherankan jika kemudian dikatakan bahwa
Amerika Tengah bagaikan negara kedua bagi para imigran tersebut.
Baca juga info : kursus bahasa
inggris
Sejarah mencatat, imigran Arab dan Afrika adalah yang pertama datang
ke Amerika jauh sebelum Christopher Columbus yang menemukan benua itu.
Mereka adalah umat Muslim yang menghindari represi dari kaum Nasrani
setelah jatuhnya Andalusia (Spanyol).
Setelah itu,
semakin deras arus kehadiran imigran asal Arab pada abad ke-19 dan
ke-20. Alasan mereka karena adanya gejolak yang terjadi Tanah Arab,
khususnya Palestina dan Afghanistan.
Salah satu negara yang menjadi tujuan para imigran itu adalah
Honduras. Negara yang bertetangga dengan Guatemala, El Savador, dan
Nikaragua ini dikenal sebagai ‘Republik Pisang’. Sebab, Honduras dikenal
sebagai penghasil pisang terbesar di dunia.
Selain
pisang, komoditas utama di bidang perkebunan adalah kopi. Selain sektor
pertanian dan perkebunan, Pemerintah Honduras juga gencar mendorong
sektor perdagangan dan industri.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris
Mereka ingin keluar
dari jerat kemiskinan. Honduras tercatat masuk kategori negara dengan
penghasilan menengah ke bawah. Oleh karena itu, pembangunan di segala
bidang merupakan keharusan demi mencapai kesejahteraan. Menjadi tanggung
jawab segenap elemen bangsa untuk turut berpartisipasi mewujudkan
tujuan bersama tadi.
Termasuk, para imigran asal
Timur Tengah. Honduras mulai menerima kehadiran gelombang imigran Arab
sekitar tahun 1896 hingga 1918. Sebagian besar imigran itu adalah warga
keturunan Arab asal Palestina.
Secara demografi, kebanyakan merupakan kaum Nasrani, namun terdapat
pula umat beragama Islam. Namun, mereka bisa cepat berbaur dengan warga
lokal serta mulai menjalani kehidupan baru.
Di
Honduras, para imigran Arab itu menjalankan berbagai aktivitas. Ada yang
menjadi politisi atau pegawai pemerintahan, tetapi paling banyak terjun
di dunia bisnis dan perdagangan. Diperkirakan, jumlah mereka mencapai
100 hingga 200 ribu jiwa dari tujuh juta populasi penduduk.
Honduras
pun tercatat sebagai negara dengan jumlah imigran Arab Palestina
terbesar di kawasan sejajar dengan Amerika Serikat, Kanada, dan Cile.
Jumlah
imigran Arab Muslim sekitar 2.790 jiwa atau 0,04 persen dari populasi.
Kendati tidak signifikan dari segi kuantitas, kehadiran mereka cukup
memberikan kontribusi dalam pembangunan bidang sosial, ekonomi, politik,
ataupun keagamaan.
Sejak tahun 1984, umat Muslim
memiliki wadah organisasi. Namanya Centro Islamico de Honduras yang
berkedudukan di Kota San Pedro Sula, pimpinan Yusuf Amdani. Lainnya
adalah Comunidad Islamica de Honduras di Cortez. Organisasi keagamaan
ini semakin mempercepat akselerasi umat Muslim pada kegiatan-kegiatan
kemasyarakatan dan keumatan.
Tujuan utamanya mendorong kesejahteraan di kalangan imigran Arab dan
Muslim. Sejumlah masjid didirikan. Organisasi juga menggiatkan aktivitas
keagamaan. Antara lain, kajian dan pembelajaran Alquran, diskusi agama
dan isu keumatan, pendidikan agama untuk anak-anak, bahasa Arab, serta
pembinaan sosial lainnya.
Baca juga info : kursus
bahasa inggris di al azhar pare
Dalam artikel bertajuk A
Century of Palestinian Immigration Into Central America, Roberto Marin
Guzman mengatakan, ada kemungkinan bertambahnya jumlah imigran Arab
Muslim di negara itu kendati tidak diketahui angka pastinya. Mereka
membentuk komunitas-komunitas Muslim di beberapa kota besar, khususnya
yang berada di kawasan utara.
Sentra pertumbuhan
sejatinya bermula di utara. Banyak dibukanya perkebunan pisang
melambangkan transformasi pembangunan sejak abad ke-19. Potensi besar
ini pada akhirnya menarik perhatian para pelaku industri pertanian,
pedagang, ataupun pekerja. Imigran Arab Muslim ikut berkontribusi dalam
setiap tahapan perkembangan di sana.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris mudah
Mereka
mengawali dengan pembukaan sejumlah perusahaan. Sebagian lagi terjun
langsung membuka perkebunan pisang atau menjadi pekerja di perkebunan.
Komunitas imigran Arab dan Muslim menempati distrik La Lima, El
Progreso, dan Puerto Cortez.
Kehidupan mereka sangat
sederhana. Tiada kemewahan dalam soal materi, seperti rumah, pakaian,
ataupun perhiasan. Ketika pergi dari satu desa ke desa lain untuk
menjual hasil perkebunan, mereka memilih tinggal di penginapan sederhana
atau rumah-rumah penduduk. Faktor inilah yang menciptakan kedekatan
dengan warga lokal.
Jaga tradisi
Para
imigran ini tidak serta-merta menanggalkan identitas tradisi dan budaya
negara asal. Sebaliknya, mereka menjaga baik-baik praktik tradisi nenek
moyang. Ini bisa ditilik dari bentuk rumah yang bergaya Timur Tengah
atau sejumlah komoditas dagang yang merupakan ciri khas produk asal
Timur Tengah, misalnya minyak wangi, obat tradisional Arab, dan banyak
lagi.
Baca juga info : kursus bahasa
inggris di pare
Di samping itu, para imigran tetap
memperhatikan perkembangan yang terjadi di Palestina. Secara regular,
mereka membaca koran-koran dari Palestina. Beberapa pengusaha rutin
membantu perjuangan saudara sebangsa dalam memperoleh hak-hak mereka.
Mereka juga sudah terbiasa melaksanakan shalat jenazah untuk mengenang
para syuhada Palestina.
Kaum imigran Arab semakin
mendapat pengakuan di masyarakat. Seperti diungkapkan Roberto Marin, tak
hanya kontribusi di sektor perekonomian, mereka juga melaksanakan
program-program sosial dan pendidikan. Salah satunya dapat dilihat
melalui sekolah yang didirikan di pinggir Kota San Pedro Sula. Sekolah
ini menampung sekitar 300-an anak-anak kurang mampu di wilayah tersebut.
Umat
Muslim juga memanfaatkan masjid di kawasan Colonia Prado Alto untuk
menggelar berbagai aktivitas sosial keagamaan. Menurut penjelasan
pimpinan Fundacion Islamica de Honduras, Abd el Jawad Abd el Fatah,
masjid ini didirikan sekitar empat tahun lalu dan kerap dihadiri imigran
Muslim dari Timur Tengah, Afrika, Indonesia, dan sebagainya.
Salah
seorang tokoh Muslim Honduras, Selim Canahuati, menyatakan, umat Muslim
Honduras berkomitmen menjaga tradisi tanah leluhur sekaligus berpegang
pada nilai-nilai agama. Hal itu tidak terjadi dalam waktu singkat, namun
telah melalui proses panjang. Sehingga, ia pun meyakini nilai Islam
akan tetap terjaga dan menjadi landasan dalam kehidupan umat sehari-hari
di negara tersebut.
Baca
juga info : daftar kursus kampung inggris pare
Sejarah dunia kerap
mengagungkan nama Christopher Columbus sebagai orang pertama yang
menemukan Benua Amerika. Akan tetapi, beberapa sumber kesejarahan
merekam kehadiran umat Islam dari Timur Tengah dan Afrika yang telah
berlangsung sejak berabad silam ke wilayah tersebut.
Adalah
putra Columbus sendiri, yang bernama Ferdinand, mengungkapkan temuan
ayahnya ketika sampai di wilayah utara dan timur Honduras. Kala itu,
sang penjelajah asal Spanyol menyaksikan keberadaan orang-orang hitam
asal Afrika. Mereka kerap disebut sebagai orang Jaras dan Guabas. Nama
ini kemungkinan memiliki kaitan dengan nama sebuah kota di Ghana, yakni
Jarra.
Kata Guabas, menurut sejumlah sejarawan, bisa
dikaitkan dengan kata Ka’bah atau Kubba, yang notabene merupakan kiblat
umat Muslim yang terletak di Tanah Suci Makkah. Karena itu, sangat
beralasan bila penduduk asal Afrika itu adalah pendatang dari Mali yang
sudah memeluk agama Islam. Mereka datang setelah kejatuhan Andalusia
(Spanyol).
Beberapa komunitas Muslim di Honduras
pada abad ke-16 dan ke-17 kerap menyebut diri mereka dengan istilah
Almamys. Ini merujuk pada tempat asal mereka dari Spanyol. Mereka
tampaknya juga memiliki kaitan erat dengan penduduk Muslim asal Afrika
yang ditemui Columbus di kawasan utara dan timur.
Sejarawan
Giles Cauvet dalam Les Berberes de l'Amerique melakukan studi
perbandingan etnografi antara pendatang dari Afrika, Timur Tengah, dan
warga asli Amerika. Menurutnya, komunitas yang menamakan diri sebagai
Almamys hanya sedikit menjalin kontak dengan ekspedisi Columbus. Istilah
itu sendiri dapat ditemukan pada literatur-literatur Islam kuno dari
abad ke-12.
Bila merujuk pada bahasa Mandinka Mali
kuno, istilah tadi memiliki pertautan dengan kata al Immamu yang berarti
seorang imam atau pemimpin,” tandas Giles Cauvet lagi.
Demikian
pula buku terkenal berjudul Nuzhat al-Musthaq fi Isthiraq al-Afaq karya
sejarawan Muslim terkemuka al Idrisi pada abad ke-12 yang menceritakan
perjalanan laut satu kelompok umat Islam berjumlah delapan orang. Mereka
berlayar dari Afrika Utara dan singgah di Lisbon, Portugal.
Setelah
menempuh perjalanan selama 31 hari, akhirnya mereka sampai di wilayah
yang diyakini sebagai Kepulauan Karibia. Selanjutnya, mereka mengembara
kembali sebelum sampai ke wilayah Amerika Tengah.

Comments
Post a Comment